355 kali dibaca
Berita ini disajikan untuk tujuan informasi. Pembaca diharapkan membaca dan menyikapi isi berita secara bijak dan kritis.
Sebuah pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026, ketika melintas di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Pesawat tersebut tengah menjalani penerbangan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.
Hilangnya komunikasi terjadi saat pesawat memasuki fase akhir penerbangan atau approach menuju Makassar, yang merupakan tahap paling krusial sebelum pendaratan.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menjelaskan bahwa pesawat tersebut mengangkut 10 orang (Persons on Board/POB) yang terdiri dari 7 awak pesawat dan 3 penumpang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pesawat terdaftar dengan registrasi PK-THT dan dikomandani oleh Pilot in Command Capt. Andy Dahananto.
Menurut laporan AirNav, ATR 42-500 itu melakukan pendekatan ke Runway 21 Bandara Sultan Hasanuddin. Namun, petugas Air Traffic Control (ATC) Makassar mendapati posisi pesawat tidak berada di jalur pendekatan yang seharusnya.
ATC lalu menginstruksikan koreksi arah agar pesawat kembali ke jalur pendaratan. Setelah instruksi tersebut diberikan, komunikasi dengan pesawat tiba-tiba terputus.
Tidak adanya respons lanjutan membuat ATC segera menetapkan status darurat atau DETRESFA (Distress Phase), yang menandai kondisi pesawat diduga mengalami masalah serius.
Operasi pencarian kemudian dipusatkan di wilayah Pegunungan Kapur Bantimurung, tepatnya sekitar Desa Leang-leang, Kabupaten Maros. Area ini dikenal memiliki kontur perbukitan dan hutan yang cukup sulit dijangkau.
Basarnas Makassar menetapkan lokasi tersebut sebagai posko utama pencarian dan mengoordinasikan seluruh unsur gabungan yang terlibat.
Tim SAR mengerahkan berbagai unsur, mulai dari Basarnas, TNI Angkatan Udara, hingga dukungan teknis dari AirNav Indonesia.
Pencarian dilakukan melalui jalur udara menggunakan helikopter TNI AU serta penyisiran darat oleh personel SAR. AirNav juga menerbitkan NOTAM (Notice to Airmen) untuk menginformasikan aktivitas pencarian kepada penerbangan lain di sekitar wilayah tersebut.
Pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak merupakan produksi tahun 2000 dengan nomor seri 611. Pesawat turboprop ini biasa digunakan untuk penerbangan jarak menengah dan dikenal mampu mendarat di bandara dengan landasan terbatas.
Rute penerbangan yang dijalani saat insiden adalah Yogyakarta – Makassar.
Informasi awal dari Kementerian Perhubungan menyebutkan kondisi cuaca saat kejadian relatif sedikit berawan dengan jarak pandang sekitar 8 kilometer. Meski demikian, data lengkap masih menunggu laporan resmi dari BMKG terkait faktor meteorologi di area Maros saat itu.
Hingga laporan ini disusun, pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport masih dalam tahap pencarian intensif. Tim SAR gabungan terus menyisir wilayah udara dan darat di sekitar Maros guna menemukan keberadaan pesawat beserta seluruh penumpang dan awaknya.
sumber : IDN News




























