403 kali dibaca
Berita ini disajikan untuk tujuan informasi. Pembaca diharapkan membaca dan menyikapi isi berita secara bijak dan kritis.
LAMPUNG UTARA – Media sosial dihebohkan dengan beredarnya sebuah video yang memperlihatkan Kepala Sekolah SDN 03 Sindang Sari, Kecamatan Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara, mengungkap kondisi memprihatinkan dari makanan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima sekolahnya. Dalam video tersebut, sang kepala sekolah menyebut makanan yang dibagikan kepada para siswa diduga sudah dalam keadaan busuk dan tidak layak konsumsi, hingga berujung pada dugaan keracunan terhadap sejumlah siswa, Senin (12/1/2026).
Video yang dengan cepat menyebar luas di berbagai platform media sosial itu menampilkan Kepala SDN 03 Sindang Sari, Ida Yulia Mega, tengah memperlihatkan secara langsung menu MBG yang diterima pihak sekolah. Ia menjelaskan bahwa makanan tersebut terdiri dari bacem tempe, tumisan sayur, serta buah-buahan, namun kondisinya sudah menimbulkan bau tidak sedap dan menunjukkan tanda-tanda tidak layak untuk dikonsumsi oleh anak-anak.
Ida menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukanlah kejadian pertama. Menurut pengakuannya, sekolah yang ia pimpin sudah beberapa kali menerima makanan dengan kualitas serupa sejak program MBG dijalankan. Ia mengaku telah berulang kali menyampaikan keluhan dan laporan resmi kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), namun hingga kini belum mendapatkan tanggapan atau solusi yang jelas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini bukan yang pertama kali terjadi. Kami sudah beberapa kali menerima makanan dengan kondisi seperti ini. Saya juga sudah berulang kali mengajukan pengaduan, tetapi tidak pernah ada respons yang benar-benar menyelesaikan masalah,” ungkap Ida kepada awak media saat ditemui di lingkungan sekolah.
🔗 Baca juga: Gubernur Dorong Transformasi RSUP NTB Menuju Pelayanan Modern
Lebih lanjut, Ida menyampaikan kekecewaannya karena ketika pihak sekolah kembali melakukan konfirmasi terkait makanan yang dinilai tidak layak konsumsi, justru pihak pengelola MBG menyarankan agar sekolah mengganti atau memindahkan kerja sama (MoU) ke dapur SPPG lain. Menurutnya, saran tersebut bukanlah solusi yang tepat, melainkan bentuk lepas tanggung jawab atas kualitas makanan yang seharusnya dijamin aman dan sehat.
Ia pun berharap agar ke depan pihak penyedia MBG dapat menjalankan tugasnya secara lebih profesional, bertanggung jawab, serta mengutamakan keselamatan dan kesehatan siswa. Ida menegaskan bahwa program MBG sejatinya bertujuan untuk meningkatkan gizi anak-anak sekolah, bukan justru menimbulkan risiko kesehatan.
Sementara itu, menanggapi viralnya video tersebut, Kepala SPPG Dapur Hajjah Lis, Abib Saputra, membenarkan adanya kelalaian dalam proses penyediaan makanan. Ia mengakui pihaknya telah melakukan evaluasi internal dan mengambil langkah tanggung jawab terhadap insiden yang terjadi.
“Kami mengakui ada kelalaian. Kami sudah menyampaikan permohonan maaf dan bertanggung jawab dengan memberikan susu serta obat-obatan ringan kepada para siswa yang terdampak,” jelas Abib.
Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 11 siswa dilaporkan mengalami gejala yang diduga akibat keracunan makanan. Keluhan yang dialami para siswa antara lain sakit perut, diare, hingga muntah-muntah, sehingga harus mendapatkan penanganan dan perhatian khusus.
🔗 Baca juga: Pemprov NTB Komitmen Dukung Keberlanjutan Program JKN
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Camat Kotabumi, Sinar Barkah, belum memberikan keterangan resmi terkait peristiwa tersebut. Upaya konfirmasi yang dilakukan melalui sambungan telepon maupun pesan singkat aplikasi WhatsApp belum mendapatkan respons.
Kasus ini pun menuai perhatian luas dari masyarakat dan warganet, yang mendesak agar pihak terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya dalam hal pengawasan kualitas dan keamanan makanan yang dikonsumsi oleh para siswa.




























