284 kali dibaca
Berita ini disajikan untuk tujuan informasi. Pembaca diharapkan membaca dan menyikapi isi berita secara bijak dan kritis.
Lumajang, Jawa Timur — Aktivitas kegempaan Gunung Semeru masih didominasi oleh gempa letusan atau erupsi dalam beberapa pekan terakhir. Gunung api tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut itu terus menunjukkan dinamika vulkanik yang intens.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi, melaporkan bahwa pada pengamatan Senin dini hari pukul 00.00 hingga 06.00 WIB tercatat sebanyak 32 kali gempa letusan. Gempa tersebut memiliki amplitudo berkisar antara 10 hingga 23 milimeter dengan durasi 66 sampai 163 detik.
Selain gempa letusan, aktivitas kegempaan juga mencakup dua kali gempa guguran dengan amplitudo 2 milimeter dan durasi 29–45 detik, serta satu kali gempa hembusan dengan amplitudo 8 milimeter yang berlangsung selama 116 detik. Tercatat pula dua kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 10–30 milimeter, selisih waktu S-P 13–15 detik, dan durasi gempa 52–60 detik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pengamatan selama 24 jam pada Minggu (4/1), aktivitas Gunung Semeru bahkan lebih intens. Tercatat sebanyak 151 kali gempa letusan atau erupsi, 10 kali gempa guguran, 21 kali gempa hembusan, tiga kali gempa harmonik, serta lima kali gempa tektonik jauh.
Secara visual, kondisi gunung api terlihat jelas meski terkadang tertutup kabut dengan tingkat 0 hingga III. Dari kawah utama teramati asap berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis sampai sedang, membumbung setinggi sekitar 200–300 meter dari puncak.
Yadi menjelaskan bahwa saat ini Gunung Semeru masih berstatus Level III atau Siaga. Sehubungan dengan itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi keselamatan. Masyarakat dilarang melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan dalam radius 13 kilometer dari puncak sebagai pusat erupsi.
Di luar zona tersebut, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terdampak awan panas dan aliran lahar hingga sejauh 17 kilometer dari puncak. Selain itu, aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru juga dilarang karena rawan bahaya lontaran batu pijar.




























