521 kali dibaca
Berita ini disajikan untuk tujuan informasi. Pembaca diharapkan membaca dan menyikapi isi berita secara bijak dan kritis.
Akar Sang Penakluk:
Sangiang Api sebagai Rahim Keberanian
Sejarah mencatat bahwa masyarakat di kaki Gunung Sangiang Api dan pesisir Sape bukanlah masyarakat pesisir biasa. Jika masyarakat laut lainnya hanya fokus pada jaring dan kail, orang Sape tumbuh dengan “gen” ganda: pelaut yang tangguh sekaligus pemburu yang beringas.
Gunung Sangiang Api, dengan karakter vulkaniknya yang keras, menempa mereka menjadi pribadi yang adaptif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di lereng-lereng inilah, tradisi berburu dimulai sebagai bentuk pertahanan hidup. Mereka mengincar rusa dan kerbau liar dengan menggunakan tombak dan parang. Kemampuan mereka membaca jejak di atas tanah berbatu sulfur menjadi modal dasar yang nantinya membawa mereka melintasi samudera.
Kuda Bima dan Ekspansi ke Pulau Komodo
Memasuki masa kejayaan Kesultanan Bima, perburuan bergeser dari sekadar pemenuhan pangan menjadi simbol status dan latihan ksatria. Kuda Bima yang kecil namun berotot baja menjadi “kendaraan perang” di medan perburuan.
Secara geografis, Sape adalah titik terdekat menuju gugusan pulau di NTT.
Dengan menggunakan perahu Lopi, para pemburu dari Sangiang dan Sape menyeberangkan kuda-kuda mereka menuju Pulau Komodo, Rinca, dan Padar. Di pulau-pulau ini, mereka menghadapi tantangan yang tidak ditemukan di tempat lain: berbagi lahan dengan Komodo (Ora).
Dalam catatan etnografi (seperti laporan W. Douglas Burden, 1927), masyarakat Bima dikenal sebagai pelacak jejak paling handal di Komodo. Muncul sebuah kearifan lokal yang unik; meski mereka berburu rusa (makanan utama Komodo), mereka pantang menyakiti sang naga purba. Ada sebuah perjanjian tak tertulis bahwa manusia dan Komodo adalah “saudara” yang berbagi wilayah buru.
🔗 Baca juga: Silaturahmi Akbar LMND Kota Bima, Delian Lubis: Musuh Mahasiswa Adalah Sistem yang Menindas
Migrasi dan Perburuan di Tanah Manggarai (NTT)
Naluri berburu ini tidak berhenti di Pulau Komodo. Didorong oleh melimpahnya populasi rusa di daratan Flores, para pemburu Sape merambah lebih jauh ke timur, menuju wilayah Manggarai (Labuan Bajo hingga Reo).
Pada masa ini, perburuan berubah menjadi kegiatan ekonomi berskala besar. Mereka menetap di pesisir-pesisir Flores Barat selama berbulan-bulan, terutama saat musim kemarau—waktu terbaik untuk menjemur daging rusa menjadi dendeng. Aktivitas ini memicu terbentuknya kantong-kantong pemukiman orang Bima di NTT.
Labuan Bajo, yang kini menjadi kota pariwisata dunia, pada mulanya adalah salah satu titik singgah dan barter hasil buruan serta hasil laut bagi para pengelana dari Sape.
Transformasi Budaya: Dari Tombak ke Pelana
Dari masa ke masa, kebiasaan berburu ini mengalami evolusi. Ketika regulasi pemerintah mulai membatasi perburuan satwa liar demi pelestarian alam, “gen” berburu masyarakat Sape tidak lantas padam. Energi tersebut bertransformasi menjadi Pacoa Jara (Pacuan Kuda Tradisional).
Keahlian mengendalikan kuda di medan berat saat mengejar rusa kini diwariskan kepada joki-joki cilik. Ketangkasan, keberanian bertaruh nyawa, dan ikatan batin dengan kuda adalah sisa-sisa kejayaan masa lalu yang tetap terjaga.
Warisan yang Tetap Hidup
🔗 Baca juga: Isu Perselingkuhan Bupati Dompu: Nadira Akui Hubungan dengan Sang Bupati Sejak Februari 2026
Kisah masyarakat Sangiang Api dan Sape adalah kisah tentang mobilitas manusia Nusantara. Mereka membuktikan bahwa batas laut bukanlah penghalang, melainkan jembatan. Dari puncak Sangiang yang berasap hingga savana Komodo yang gersang, jejak kaki kuda dan ujung tombak mereka telah merajut hubungan sejarah yang erat antara Bima dan NTT.
Hingga hari ini, jika Anda berdiri di pelabuhan Sape dan menatap ke arah timur, Anda tidak hanya melihat laut, tetapi melihat jalur legenda para pemburu yang telah menaklukkan ganasnya arus demi harga diri dan kelangsungan hidup.
Rujukan Sejarah Utama:
* Bo’ Sangaji Kayu (Manuskrip Internal Kesultanan Bima).
* Dragon Lizards of Komodo oleh W. Douglas Burden (1927).
* Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah oleh Henri Chambert-Loir.
* Catatan perjalanan Heinrich Zollinger (1850) mengenai masyarakat Bima.





























