297 kali dibaca
Berita ini disajikan untuk tujuan informasi. Pembaca diharapkan membaca dan menyikapi isi berita secara bijak dan kritis.
MATARAM – Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak pertengahan Januari 2026 memicu banjir di hampir seluruh kabupaten/kota.
Namun, pemandangan berbeda terlihat di Kota Bima. Meski diguyur hujan tanpa henti selama tiga hari berturut-turut, wilayah tersebut dilaporkan aman dari luapan sungai berkat kinerja optimal infrastruktur pengendali banjir NUFReP (National Urban Flood Resilience Project).
Pemicu Cuaca Ekstrem di NTB
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan rilis resmi BMKG NTB per 19 Januari 2026, peningkatan potensi cuaca ekstrem ini dipicu oleh sejumlah dinamika atmosfer yang kompleks, di antaranya:
🔗 Baca juga: Wagub NTB: KK NTB 2026 Bangkitkan UMKM dan Ekonomi Kreatif
* Bibit Siklon Tropis 97S: Terpantau di pesisir utara Australia dengan tekanan udara minimum 998 hPa.
* Fenomena Global & Regional: Aktifnya MJO (Madden-Julian Oscillation) spasial, gelombang Rossby ekuator, serta gelombang Kelvin di wilayah NTB.
* Kondisi Lokal: Adanya konvergensi (pertemuan angin), kelembapan udara yang tinggi, serta labilitas atmosfer kuat yang memicu pertumbuhan awan konvektif secara masif.
Ketangguhan Infrastruktur NUFReP
Saat wilayah lain di NTB berjuang menghadapi genangan, enam ruas drainase yang dikelola oleh NUFReP di Kota Bima justru menunjukkan performa mumpuni.
🔗 Baca juga: Gubernur Dorong Transformasi RSUP NTB Menuju Pelayanan Modern
Saluran-saluran ini mampu mengalirkan debit air dengan lancar sehingga sungai tidak meluap ke pemukiman warga.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) NUFReP mengonfirmasi bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan ketat di lapangan selama cuaca ekstrem berlangsung.
> “Pantauan kami di enam ruas drainase menunjukkan fungsi yang maksimal. Hal ini bisa tercapai karena desain debit banjir yang kami gunakan mengacu pada data ekstrem tahun 2016,” ujar PPK NUFReP saat dikonfirmasi via telepon seluler.
>
Harapan untuk Masyarakat
Keberhasilan infrastruktur dalam menahan laju air ini diharapkan menjadi titik balik ketahanan kota terhadap bencana tahunan. Namun, pihak NUFReP menekankan bahwa kecanggihan bangunan harus dibarengi dengan kepedulian lingkungan.
“Harapan kami, kinerja bangunan yang ada saat ini bisa terus dipertahankan. Kami sangat memohon kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan ke dalam saluran drainase agar fungsinya tetap terjaga dalam jangka panjang,” pungkasnya.




























