Api di Batu Leong: Ketika Seorang Ibu Dibakar oleh Darah Dagingnya Sendiri

Tuesday, 27 January 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

468 kali dibaca

⚠️ PERINGATAN ⚠️
Berita ini disajikan untuk tujuan informasi. Pembaca diharapkan membaca dan menyikapi isi berita secara bijak dan kritis.

Di Dusun Batu Leong tepatnya pada Minggu sore (25/1/2026), asap adalah pemandangan biasa sampah kering, daun kelapa, plastik yang dibakar tergesa. Minggu sore itu, jalan raya sepi. Matahari menggantung rendah, memberi cahaya keemasan yang menipu, seolah dunia sedang baik-baik saja.

Pukul 16:30 Seorang remaja yang hendak beranjak kekebun berhenti sejenak. Bau menyengat menusuk hidungnya. Ia menoleh ke arah lahan kosong di pinggir jalan. Asap tipis mengepul dari tumpukan sampah yang terbakar. Tidak ada yang aneh. Ia melanjutkan langkahnya ke kebun.

Kesalahan kecil yang hampir membuat rahasia itu terkubur.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat ia kembali, api masih menyala. Terlalu lama untuk sekadar sampah. Ia mendekat. Di balik sisa bara, bentuk itu terlihat—tidak utuh, tidak wajar. Sejenak pikirannya menolak menerima apa yang dilihat mata.

Lalu kesadaran itu datang.

Ini bukan benda.
Ini tubuh manusia.

Warga berdatangan. Api dipadamkan. Dan ketika asap menghilang, yang tersisa adalah jenazah hangus, tanpa identitas, tanpa suara. Polisi memberinya nama sementara: Mr. X. Sebuah sebutan fungsional untuk kematian yang tidak manusiawi.

Malam turun cepat. Garis polisi membelah jalan sunyi itu. Tim Inafis bekerja dalam diam, mencatat, memotret, mengukur. Di tanah ditemukan botol air mineral berisi sisa cairan hijau, bau bahan bakar masih tajam. Seutas tali nilon tergeletak tepat di bawah tubuh korban, seolah sengaja ditinggalkan. Di sekelilingnya, plastik pengiriman paket dan sampah—kamuflase yang gagal.

🔗 Baca juga: Dari Hilirisasi hingga Gili Tramena, Gubernur NTB dan Komisi VII Perkuat Transformasi Ekonomi NTB

Tidak ada saksi mata.
Tidak ada suara perkelahian.
Hanya jejak-jejak kecil dari seseorang yang berusaha menghapus keberadaannya sendiri.

Jenazah dikirim ke RS Bhayangkara Polda NTB. Autopsi menjadi kunci. Api memang menghanguskan banyak hal, tapi tidak pernah sempurna. Tubuh selalu menyimpan rahasia terakhirnya.

Hasilnya pelan-pelan menyusun cerita yang berbeda dari dugaan awal.

Korban bukan laki-laki.
Ia seorang perempuan.
Dan ia meninggal sebelum api menyentuh tubuhnya.

Namanya Yeni Astuti. Seorang ibu dari Monjok Baru, Mataram.

Penyelidikan beralih arah. Dari lokasi pembakaran ke tempat terakhir korban terlihat hidup: rumahnya sendiri. Tidak ada tanda perampokan. Tidak ada barang hilang. Yang hilang hanya satu hal rasa aman.

Polisi mencatat satu detail yang mengganggu: anak korban, Bara Prima Rio, datang melapor. Mengaku ibunya hilang. Ceritanya rapi. Terlalu rapi. Kesedihannya ada, tapi datar. Seolah ia telah menghafal naskahnya sendiri.

Kecurigaan membawa penyidik pada mobil yang digunakan pelaku. Di sanalah kesalahan terbesar terjadi. Bercak darah, kecil namun cukup. Darah yang tidak bisa dibantah. Darah yang tidak bisa berbohong.

Interogasi tidak berlangsung lama.

Fakta akhirnya runtuh satu per satu. Yeni Astuti dibunuh di rumahnya sendiri. Diduga dibekap tanpa senjata, tanpa suara keras. Metode yang hanya membutuhkan kedekatan dan kepercayaan seorang ibu.

🔗 Baca juga: Antisipasi Defisit, Pemprov NTB Susun APBD-P Lebih Realistis

Setelah memastikan nyawa itu pergi, pelaku memindahkan jasad ibunya. Jauh dari rumah. Jauh dari tetangga. Ke Batu Leong. Ke tempat sepi yang dipilih untuk menghilangkan jejak dengan api.

Ia membakar tubuh ibunya sendiri Lalu pulang, lalu berpura-pura kehilangan.

Bara Prima Rio ditangkap. Residivis narkoba. Motif belum diungkap. Polisi masih menyusunnya dalam berkas perkara dingin, rapi, tanpa emosi.

Namun satu hal sudah jelas. Kasus ini bukan sekadar pembunuhan, ini adalah pengkhianatan paling dasar dalam hubungan manusia.

Api di Batu Leong telah padam. Jalan itu kembali sepi. Tapi bagi siapa pun yang tahu ceritanya, tempat itu tidak akan pernah benar-benar kosong.

Karena di sana, pernah ada seorang ibu yang dibawa pergi oleh anaknya sendiri dan dikembalikan ke dunia hanya sebagai abu.

Redaksi Ompunet

Berita Terkait

Dari Hilirisasi hingga Gili Tramena, Gubernur NTB dan Komisi VII Perkuat Transformasi Ekonomi NTB
Antisipasi Defisit, Pemprov NTB Susun APBD-P Lebih Realistis
Pasca OTT Bupati Lombok Barat, Kursi Wakil Bupati Jadi Incaran Partai Pengusung, KASTA NTB DPD LOBAR Terlalu Dini, Luka Rakyat Belum Terobati
Musda HKTI: Gubernur Miq Iqbal Tawarkan Model Pertanian ala FELDA Malaysia
Kerap Dikeluhkan, Iqbal Revitalisasi Pasar Kuta Mandalika Jadi Lebih Nyaman
Anak mantan Bupati Bima Dipolisikan Terkait kasus penipuan Rp3,8 Miliar
Pertamina Patra Niaga Rayakan Hari Anak Nasional melalui Edukasi Budaya dan Aksi Pelestarian Lingkungan
Gubernur NTB Luncurkan Reformasi Pendidikan, Perkuat Mutu Sekolah hingga Ketahanan Pangan

Berita Terkait

Tuesday, 11 August 2026 - 20:25 WITA

Dari Hilirisasi hingga Gili Tramena, Gubernur NTB dan Komisi VII Perkuat Transformasi Ekonomi NTB

Monday, 10 August 2026 - 15:29 WITA

Antisipasi Defisit, Pemprov NTB Susun APBD-P Lebih Realistis

Sunday, 2 August 2026 - 20:49 WITA

Pasca OTT Bupati Lombok Barat, Kursi Wakil Bupati Jadi Incaran Partai Pengusung, KASTA NTB DPD LOBAR Terlalu Dini, Luka Rakyat Belum Terobati

Sunday, 2 August 2026 - 20:44 WITA

Musda HKTI: Gubernur Miq Iqbal Tawarkan Model Pertanian ala FELDA Malaysia

Wednesday, 29 July 2026 - 07:57 WITA

Kerap Dikeluhkan, Iqbal Revitalisasi Pasar Kuta Mandalika Jadi Lebih Nyaman

Berita Terbaru

Daerah

Gubernur Iqbal: Bawa Syiar Al-Qur’an, Jaga Marwah NTB

Thursday, 10 Sep 2026 - 12:24 WITA