379 kali dibaca
Berita ini disajikan untuk tujuan informasi. Pembaca diharapkan membaca dan menyikapi isi berita secara bijak dan kritis.
Di Dusun Batu Leong tepatnya pada Minggu sore (25/1/2026), asap adalah pemandangan biasa sampah kering, daun kelapa, plastik yang dibakar tergesa. Minggu sore itu, jalan raya sepi. Matahari menggantung rendah, memberi cahaya keemasan yang menipu, seolah dunia sedang baik-baik saja.
Pukul 16:30 Seorang remaja yang hendak beranjak kekebun berhenti sejenak. Bau menyengat menusuk hidungnya. Ia menoleh ke arah lahan kosong di pinggir jalan. Asap tipis mengepul dari tumpukan sampah yang terbakar. Tidak ada yang aneh. Ia melanjutkan langkahnya ke kebun.
Kesalahan kecil yang hampir membuat rahasia itu terkubur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat ia kembali, api masih menyala. Terlalu lama untuk sekadar sampah. Ia mendekat. Di balik sisa bara, bentuk itu terlihat—tidak utuh, tidak wajar. Sejenak pikirannya menolak menerima apa yang dilihat mata.
Lalu kesadaran itu datang.
Ini bukan benda.
Ini tubuh manusia.
Warga berdatangan. Api dipadamkan. Dan ketika asap menghilang, yang tersisa adalah jenazah hangus, tanpa identitas, tanpa suara. Polisi memberinya nama sementara: Mr. X. Sebuah sebutan fungsional untuk kematian yang tidak manusiawi.
Malam turun cepat. Garis polisi membelah jalan sunyi itu. Tim Inafis bekerja dalam diam, mencatat, memotret, mengukur. Di tanah ditemukan botol air mineral berisi sisa cairan hijau, bau bahan bakar masih tajam. Seutas tali nilon tergeletak tepat di bawah tubuh korban, seolah sengaja ditinggalkan. Di sekelilingnya, plastik pengiriman paket dan sampah—kamuflase yang gagal.
🔗 Baca juga: Guru Berkarakter Jadi Kunci Pendidikan NTB Masa Depan
Tidak ada saksi mata.
Tidak ada suara perkelahian.
Hanya jejak-jejak kecil dari seseorang yang berusaha menghapus keberadaannya sendiri.
Jenazah dikirim ke RS Bhayangkara Polda NTB. Autopsi menjadi kunci. Api memang menghanguskan banyak hal, tapi tidak pernah sempurna. Tubuh selalu menyimpan rahasia terakhirnya.
Hasilnya pelan-pelan menyusun cerita yang berbeda dari dugaan awal.
Korban bukan laki-laki.
Ia seorang perempuan.
Dan ia meninggal sebelum api menyentuh tubuhnya.
Namanya Yeni Astuti. Seorang ibu dari Monjok Baru, Mataram.
Penyelidikan beralih arah. Dari lokasi pembakaran ke tempat terakhir korban terlihat hidup: rumahnya sendiri. Tidak ada tanda perampokan. Tidak ada barang hilang. Yang hilang hanya satu hal rasa aman.
Polisi mencatat satu detail yang mengganggu: anak korban, Bara Prima Rio, datang melapor. Mengaku ibunya hilang. Ceritanya rapi. Terlalu rapi. Kesedihannya ada, tapi datar. Seolah ia telah menghafal naskahnya sendiri.
Kecurigaan membawa penyidik pada mobil yang digunakan pelaku. Di sanalah kesalahan terbesar terjadi. Bercak darah, kecil namun cukup. Darah yang tidak bisa dibantah. Darah yang tidak bisa berbohong.
Interogasi tidak berlangsung lama.
Fakta akhirnya runtuh satu per satu. Yeni Astuti dibunuh di rumahnya sendiri. Diduga dibekap tanpa senjata, tanpa suara keras. Metode yang hanya membutuhkan kedekatan dan kepercayaan seorang ibu.
🔗 Baca juga: Komdigi Batasi Medsos Usia 16 Tahun, NTB Dukung Perlindungan Anak
Setelah memastikan nyawa itu pergi, pelaku memindahkan jasad ibunya. Jauh dari rumah. Jauh dari tetangga. Ke Batu Leong. Ke tempat sepi yang dipilih untuk menghilangkan jejak dengan api.
Ia membakar tubuh ibunya sendiri Lalu pulang, lalu berpura-pura kehilangan.
Bara Prima Rio ditangkap. Residivis narkoba. Motif belum diungkap. Polisi masih menyusunnya dalam berkas perkara dingin, rapi, tanpa emosi.
Namun satu hal sudah jelas. Kasus ini bukan sekadar pembunuhan, ini adalah pengkhianatan paling dasar dalam hubungan manusia.
Api di Batu Leong telah padam. Jalan itu kembali sepi. Tapi bagi siapa pun yang tahu ceritanya, tempat itu tidak akan pernah benar-benar kosong.
Karena di sana, pernah ada seorang ibu yang dibawa pergi oleh anaknya sendiri dan dikembalikan ke dunia hanya sebagai abu.
Redaksi Ompunet




























