627 kali dibaca
Berita ini disajikan untuk tujuan informasi. Pembaca diharapkan membaca dan menyikapi isi berita secara bijak dan kritis.
MATARAM – Momentum Pemilihan Rektor Universitas Mataram (UNRAM) periode 2026–2030 bukan sekadar agenda rutin empat tahunan. Kali ini, sorotan publik dan civitas akademika tertuju pada satu nama yang dinilai membawa angin segar bagi perubahan: Prof. Dr. Sukardi, S.Pd., M.Pd.
Dikenal luas sebagai pribadi yang santun dan jauh dari kesan eksklusif, Prof. Sukardi muncul sebagai figur inspiratif yang membuktikan bahwa integritas dan kerja keras adalah kunci utama dalam membangun karier di dunia pendidikan.
Perjalanan Prof. Sukardi dimulai dari dedikasinya sebagai dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNRAM. Ketekunannya dalam riset dan publikasi ilmiah membawanya meraih gelar Guru Besar (Profesor) pada usia 44 tahun sebuah pencapaian langka yang menjadikannya salah satu profesor termuda di masanya.
Keberhasilan ini bukan sekadar gelar akademik, melainkan simbol semangat bagi dosen-dosen muda lainnya di UNRAM. Beliau sering kali berpesan dalam berbagai forum bahwa universitas harus menjadi kawah candradimuka di mana inovasi lahir tanpa harus terhambat oleh birokrasi yang kaku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan (WR II) saat ini, Prof. Sukardi telah meletakkan fondasi yang kuat bagi transparansi tata kelola kampus. Di bawah kepemimpinannya, UNRAM terus berbenah dalam digitalisasi sistem keuangan dan optimalisasi aset universitas.
🔗 Baca juga: Wagub NTB: KK NTB 2026 Bangkitkan UMKM dan Ekonomi Kreatif
Namun, bukan hanya soal angka dan neraca yang membuatnya dikagumi. Para staf di lingkungan rektorat mengenal beliau sebagai pemimpin yang “memanusiakan manusia.” Beliau dikenal rutin turun langsung ke lapangan, berdialog dengan tenaga kependidikan, hingga mendengar keluh kesah mahasiswa terkait fasilitas kampus.
Bagi banyak pihak di UNRAM, daya tarik utama Prof. Sukardi terletak pada kerendahhatiannya (low profile). Di tengah hiruk-pikuk politik kampus, beliau tetap menjaga jarak aman dari konflik dan lebih memilih fokus pada solusi.
”Seorang pemimpin di institusi pendidikan harus menjadi teladan moral sebelum menjadi pengambil kebijakan,” ungkap salah satu tokoh senior di UNRAM.
Filosofi inilah yang membuat dukungan kepada beliau terus mengalir, tidak hanya dari kalangan dosen senior, tetapi juga dari generasi milenial dan Gen Z di lingkungan universitas.
Dalam visinya menuju kursi Rektor, Prof. Sukardi membawa misi besar untuk membawa UNRAM keluar dari zona nyaman. Beliau mendorong penguatan riset berbasis potensi lokal NTB seperti pariwisata, pertanian, dan kelautan untuk diangkat ke level internasional.
🔗 Baca juga: Gubernur Dorong Transformasi RSUP NTB Menuju Pelayanan Modern
Beliau meyakini bahwa UNRAM memiliki modalitas yang besar untuk sejajar dengan universitas ternama di Pulau Jawa. Fokusnya adalah pada penguatan sumber daya manusia (SDM) dan memperluas jejaring kerja sama global tanpa melupakan akar pengabdian pada masyarakat lokal.
Kini, saat tahapan pemilihan mencapai puncaknya, kehadiran Prof. Sukardi memberikan warna tersendiri. Beliau bukan hanya calon rektor yang membawa tumpukan dokumen visi-misi, tetapi seorang pendidik yang membawa harapan bahwa UNRAM di masa depan akan dipimpin oleh sosok yang memiliki kedalaman ilmu sekaligus ketulusan hati.
Perjalanan beliau menuju kursi Rektor UNRAM adalah potret perjalanan seorang akademisi sejati yang tumbuh dari bawah, berproses dengan integritas, dan kini siap mewakafkan dirinya untuk kemajuan pendidikan tinggi di Nusa Tenggara Barat.




























