592 kali dibaca
Berita ini disajikan untuk tujuan informasi. Pembaca diharapkan membaca dan menyikapi isi berita secara bijak dan kritis.
I. Gunung yang Tidak Pernah Benar-Benar Diam
Gunung Sangiang Api adalah sebuah pulau vulkanik aktif yang terletak di perairan Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Dari kejauhan, ia tampak seperti surga kecil: hamparan savana, tebing terjal, dan panorama laut biru yang mengelilinginya. Namun bagi warga sekitar, gunung ini memiliki sisi lain—sisi yang sulit dijelaskan dengan logika biasa.
Kabut sering turun mendadak, jalur bisa berubah tanpa tanda, dan angin yang berembus di antara celah-celah batu kadang terdengar seperti langkah manusia. Medan terjal, vegetasi rapat, serta banyaknya celah alami membuat Sangiang Api kerap dijuluki sebagai gunung yang “memakan jejak”.
Di tempat inilah, pada pertengahan Desember lalu, seorang pemuda bernama Kifen dilaporkan menghilang tanpa jejak.
Ia berangkat bersama tiga rekannya dengan tujuan berburu kambing liar—sebuah aktivitas yang cukup lazim dilakukan masyarakat pesisir sekitar. Mereka bukan pendaki profesional, melainkan warga lokal yang merasa mengenal medan dengan baik.
Namun dari perjalanan itu, hanya tiga orang yang kembali.
Kifen tidak pernah turun dari gunung tersebut.
II. Kronologi yang Awalnya Tampak Biasa
Berdasarkan keterangan rekan-rekannya, perjalanan menuju Gunung Sangiang Api berlangsung normal. Mereka menyeberang dari daratan utama, mendaki jalur yang biasa digunakan, lalu bermalam di satu titik peristirahatan.
Hari berikutnya, Kifen dan satu rekannya memutuskan naik lebih dulu ke jalur yang lebih tinggi. Dua lainnya menyusul dari belakang. Mereka sepakat bertemu di satu titik yang telah dikenali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun titik temu itu justru menjadi awal dari misteri.
Saat rekan-rekannya tiba di lokasi yang disepakati, Kifen tidak ada di sana. Mereka menunggu cukup lama, memanggil namanya, dan menyisir area sekitar.
Tetapi tidak ada jawaban.
Tidak ada suara.
Tidak ada jejak baru.
Awalnya, mereka mengira Kifen hanya tersesat. Namun keanehan mulai terasa karena gunung tidak menunjukkan tanda-tanda lazim orang hilang: tidak ada ranting patah, tidak ada bekas langkah, tidak ada barang pribadi yang tertinggal.
Seolah-olah Kifen menghilang begitu saja dari jalur itu.
III. Operasi Pencarian yang Berujung Buntu
Setelah dilaporkan, tim SAR gabungan langsung diterjunkan. Drone diterbangkan, jalur-jalur disisir, warga lokal ikut membantu mencari.
Namun hasilnya tetap nihil.
Laporan dari lapangan justru memunculkan kejanggalan demi kejanggalan:
• Tidak ditemukan tapak kaki baru
• Tidak ada pakaian, tas, atau barang pribadi milik Kifen
• Tidak ada tanda jatuh, terpeleset, atau bekas seretan
• Drone thermal sempat menangkap titik panas, tetapi saat didekati lokasinya kosong
Dalam kebanyakan kasus orang hilang di gunung, selalu ada petunjuk yang tertinggal. Namun pada kasus ini, jalur terasa “bersih”.
Seorang relawan bahkan menggambarkan situasi itu dengan kalimat sederhana namun menusuk:
“Seperti mencari orang yang tidak pernah ada di sana.”
🔗 Baca juga: Wagub NTB: KK NTB 2026 Bangkitkan UMKM dan Ekonomi Kreatif
IV. Retakan dalam Cerita Para Rekan
Seiring waktu, aparat mulai memeriksa keterangan dari rekan-rekan Kifen. Secara umum, narasi mereka serupa: berpisah di jalur, menunggu di titik temu, lalu Kifen tidak muncul.
Namun ketika ditelusuri lebih dalam, muncul perbedaan kecil dalam detail cerita:
• Jam berpisah yang tidak selalu sama
• Arah jalur yang digambarkan sedikit berbeda
• Titik terakhir keberadaan Kifen yang tidak konsisten
Perbedaan-perbedaan ini memang tidak otomatis menjadi bukti kejahatan. Tetapi dalam dunia investigasi, detail kecil sering kali menjadi pintu menuju pertanyaan besar.
Di sinilah kecurigaan publik mulai tumbuh:
Apakah Kifen benar-benar hilang karena tersesat?
Ataukah ada sesuatu yang terjadi sebelum ia menghilang?
V. Perburuan Ilegal dan Temuan Senjata Rakitan
Penyelidikan polisi kemudian menemukan fakta penting: aktivitas berburu di kawasan tersebut ternyata tidak sepenuhnya legal.
Dari hasil pengembangan kasus, aparat menemukan adanya penggunaan senjata rakitan untuk berburu rusa. Bahkan seorang rekan Kifen berinisial A telah ditetapkan sebagai tersangka kepemilikan senjata api ilegal. Polisi juga menyita dua senjata rakitan dalam proses penyelidikan.
Fakta ini membuka babak baru dalam kasus hilangnya Kifen.
Di mata hukum, ini adalah pelanggaran terpisah. Namun di mata masyarakat, temuan ini memicu berbagai spekulasi:
• Bagaimana jika saat berburu terjadi kecelakaan fatal?
• Bagaimana jika Kifen terkena tembakan yang tidak disengaja?
• Bagaimana jika kepanikan membuat orang memilih menyembunyikan kenyataan?
Tidak ada bukti fisik yang mengarah ke sana. Jasad Kifen pun tidak ditemukan. Tetapi justru ketiadaan itulah yang membuat teori-teori berkembang.
VI. Teori Konspirasi yang Beredar di Masyarakat
Minimnya bukti konkret membuat ruang publik dipenuhi berbagai dugaan. Dari obrolan warga hingga media sosial, bermunculan sejumlah teori konspirasi yang hingga kini terus diperbincangkan.
1. Dugaan Cover-Up Insiden Perburuan
Spekulasi paling kuat menyebut bahwa Kifen mungkin mengalami kecelakaan saat berburu. Dalam kepanikan, rekan-rekannya diduga menyembunyikan tubuhnya agar tidak berurusan dengan hukum terkait senjata ilegal.
Teori ini diperkuat oleh:
• Tidak ditemukannya jasad
• Perbedaan keterangan saksi
• Fokus penyelidikan yang lebih banyak mengarah ke kasus senpi ilegal
Namun hingga kini, semua itu tetap dugaan tanpa bukti.
2. Dual Narasi dari Para Rekan
Perbedaan kecil dalam cerita para saksi memunculkan anggapan bahwa ada sesuatu yang sengaja ditutupi. Sebagian netizen bahkan menilai narasi mereka berubah-ubah untuk “mengalahkan waktu pencarian”.
Teori ekstremnya:
Kifen mungkin sengaja ditinggalkan karena konflik internal atau perselisihan.
Tetapi sekali lagi—tidak ada bukti nyata.
3. Arah Penyidikan yang Dinilai Janggal
Sebagian masyarakat curiga karena polisi tampak lebih fokus pada kasus senjata rakitan dibanding pencarian jasad Kifen.
Dari sini muncul dugaan bahwa ada pihak tertentu yang tidak ingin kasus ini terungkap lebih jauh, terutama jika berkaitan dengan jaringan perburuan ilegal yang lebih besar.
4. Misteri Alam Gunung Sangiang Api
Ada pula kelompok masyarakat yang meyakini bahwa hilangnya Kifen murni karena faktor alam.
Gunung Sangiang Api dikenal memiliki:
• Celah batu tersembunyi
• Lubang vulkanik alami
• Medan rapuh yang mudah longsor
• Kabut tebal yang memutar arah
Dalam teori ini, Kifen mungkin terperosok ke tempat yang benar-benar sulit dijangkau tim SAR—sebuah ruang yang tidak terlihat dari permukaan.
5. Narasi Mistis yang Menguat
Tak bisa dipungkiri, unsur mistis juga mengiringi kasus ini. Sebagian warga percaya bahwa gunung tersebut memiliki “wilayah lain” yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah.
Ada yang menyebut Kifen “tergelincir ke dimensi lain”, ada pula yang meyakini bahwa gunung “tidak ingin mengembalikannya”.
Tentu, semua ini hanyalah kepercayaan tanpa dasar ilmiah.
Ada yang mengatakan Kifen tahu—atau melihat—sesuatu yang tidak boleh dia ceritakan kembali: entah itu lokasi persembunyian rusa, praktik peluru ilegal, atau bahkan ladang perlawanan kelompok tertentu.
Teori ekstrem lainnya: dia dibungkam untuk mencegah informasi keluar, dan tubuhnya sengaja disembunyikan jauh dari SAR yang “diatur” supaya tak menemukan bukti.
Namun sekali lagi: tidak ada bukti, tidak ada saksi, tidak ada pengakuan, tidak ada jenazah. Yang ada hanya ruang kosong yang diisi imajinasi publik.
VII. Antara Fakta dan Kekosongan Informasi
Dalam setiap kasus orang hilang, selalu ada dua dunia yang berjalan berdampingan:
• Dunia penyelidikan resmi
• Dunia spekulasi publik
Ketika dunia pertama kehabisan petunjuk, dunia kedua tumbuh semakin besar.
Kasus Kifen adalah contoh nyata dari situasi itu.
Tidak ditemukannya jasad, minimnya bukti, dan beragam kejanggalan kecil membuat ruang kosong yang kemudian diisi oleh imajinasi kolektif masyarakat.
Fenomena ini dikenal sebagai social narrative vacuum—ketika ketiadaan fakta melahirkan banyak cerita.
VIII. Realitas Paling Sunyi: Penantian Keluarga
Di balik semua teori, konspirasi, dan perdebatan publik, ada satu realitas yang sering terlupakan: keluarga Kifen.
Bagi mereka, kasus ini bukan soal misteri atau spekulasi.
Ini adalah tentang anak, saudara, dan anggota keluarga yang tidak pernah pulang.
Tidak ada makam untuk diziarahi.
Tidak ada kepastian untuk diterima.
Hanya penantian tanpa ujung.
🔗 Baca juga: Gubernur Dorong Transformasi RSUP NTB Menuju Pelayanan Modern
Dalam banyak kasus orang hilang, ketidakpastian sering kali lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri.
Pertanyaan yang Masih Menggantung
Hingga hari ini, hilangnya Kifen tetap menjadi tanda tanya besar.
Apakah ia korban kecelakaan?
Apakah ada insiden yang ditutupi?
Ataukah ia benar-benar “ditelan” oleh kerasnya alam Gunung Sangiang Api?
Tidak ada yang tahu pasti.
Kasus ini menunjukkan satu hal penting:
Tidak semua misteri bisa ditutup dengan garis polisi.
Tidak semua kehilangan bisa dijelaskan dengan logika.
Dan di Gunung Sangiang Api, pertanyaan itu masih menggantung:
Apakah manusia yang menghilang di gunung,
atau gunung yang menolak mengembalikan manusia?
DISCLAIMER PENTING
Tulisan ini bersifat investigatif-naratif: menggabungkan fakta publik yang pernah diberitakan dengan penelusuran opini masyarakat. Bagian spekulasi ditulis sebagai pandangan publik, bukan tuduhan, dan tidak menyatakan kesalahan siapa pun, bukan untuk memvonis pihak tertentu.
REDAKSI OMPUNET




























