273 kali dibaca
Berita ini disajikan untuk tujuan informasi. Pembaca diharapkan membaca dan menyikapi isi berita secara bijak dan kritis.
Lombok Timur – Jembatan yang menjadi akses utama penghubung empat dusun di wilayah dua kecamatan, Masbagik dan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, dilaporkan ambruk pada Sabtu (10/01/2026). Ambruknya jembatan tersebut diduga kuat akibat pondasi yang terus tergerus oleh derasnya aliran sungai, terutama saat intensitas hujan meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Peristiwa ini berdampak besar terhadap aktivitas masyarakat, khususnya di bidang pendidikan dan perekonomian, yang kini terpaksa terisolasi.
Kepala Desa Jurit Baru, Athar Junaidi, menjelaskan bahwa jembatan tersebut dibangun sejak era 1990-an dan selama puluhan tahun menjadi jalur vital bagi warga sekitar. Menurutnya, kerusakan pada jembatan terjadi secara bertahap seiring dengan terkikisnya bagian pondasi oleh arus sungai yang semakin kuat ketika musim hujan tiba. Kondisi ini menyebabkan struktur dasar jembatan melemah hingga akhirnya tidak mampu lagi menahan beban.
“Debit air sungai yang tinggi saat hujan membuat pondasi jembatan terus tergerus. Kerusakan itu berlangsung perlahan, sampai akhirnya jembatan tidak bisa dipertahankan dan ambruk,” ujar Athar, Senin (12/01/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
🔗 Baca juga: Wagub NTB: KK NTB 2026 Bangkitkan UMKM dan Ekonomi Kreatif
Athar menambahkan, pasca ambruknya jembatan tersebut, warga kini tidak memiliki akses yang memadai untuk beraktivitas. Meski terdapat jalur alternatif, namun jaraknya cukup jauh dan kondisinya pun tidak layak dilalui, terutama bagi kendaraan roda dua maupun roda empat.
“Saat ini tidak ada akses utama yang bisa diandalkan. Jalan alternatif memang ada, tapi harus memutar cukup jauh dan kondisinya tidak memadai,” katanya.
Diketahui, jembatan tersebut berada di perbatasan empat dusun yang tersebar di dua desa dan dua kecamatan, yakni Masbagik dan Pringgasela. Akibat kejadian ini, aktivitas warga sehari-hari menjadi terganggu. Bahkan, sejumlah pelajar terpaksa harus turun dan menyeberangi bekas aliran sungai demi bisa sampai ke sekolah.
“Ini adalah jalur paling dekat dan paling layak yang selama ini digunakan. Banyak siswa yang bersekolah di wilayah Mekar Sari berasal dari dusun dan desa di seberang, seperti Sambi Elen, Sukatani, hingga Desa Pengadangan Barat,” jelasnya.
🔗 Baca juga: Gubernur Dorong Transformasi RSUP NTB Menuju Pelayanan Modern
Untuk sementara waktu, Pemerintah Desa Jurit Baru berencana mengajak masyarakat setempat untuk bergotong royong membuka dan membangun jalan alternatif darurat. Upaya tersebut dilakukan sembari menunggu adanya bantuan dari pemerintah daerah maupun pihak terkait untuk perbaikan dan pembangunan kembali jembatan yang ambruk.
“Jalan ini merupakan satu-satunya akses terbaik dan terdekat bagi warga, baik untuk pendidikan anak-anak maupun aktivitas jual beli masyarakat. Kami berharap segera ada perhatian dan bantuan agar akses ini bisa kembali normal,” pungkas Athar.




























