Sangiang Api: Rahim Para Pemburu Legendaris

Saturday, 27 December 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

699 kali dibaca

⚠️ PERINGATAN ⚠️
Berita ini disajikan untuk tujuan informasi. Pembaca diharapkan membaca dan menyikapi isi berita secara bijak dan kritis.

Akar Sang Penakluk:

Sangiang Api sebagai Rahim Keberanian
Sejarah mencatat bahwa masyarakat di kaki Gunung Sangiang Api dan pesisir Sape bukanlah masyarakat pesisir biasa. Jika masyarakat laut lainnya hanya fokus pada jaring dan kail, orang Sape tumbuh dengan “gen” ganda: pelaut yang tangguh sekaligus pemburu yang beringas.

Gunung Sangiang Api, dengan karakter vulkaniknya yang keras, menempa mereka menjadi pribadi yang adaptif.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di lereng-lereng inilah, tradisi berburu dimulai sebagai bentuk pertahanan hidup. Mereka mengincar rusa dan kerbau liar dengan menggunakan tombak dan parang. Kemampuan mereka membaca jejak di atas tanah berbatu sulfur menjadi modal dasar yang nantinya membawa mereka melintasi samudera.

Kuda Bima dan Ekspansi ke Pulau Komodo

Memasuki masa kejayaan Kesultanan Bima, perburuan bergeser dari sekadar pemenuhan pangan menjadi simbol status dan latihan ksatria. Kuda Bima yang kecil namun berotot baja menjadi “kendaraan perang” di medan perburuan.
Secara geografis, Sape adalah titik terdekat menuju gugusan pulau di NTT.

Dengan menggunakan perahu Lopi, para pemburu dari Sangiang dan Sape menyeberangkan kuda-kuda mereka menuju Pulau Komodo, Rinca, dan Padar. Di pulau-pulau ini, mereka menghadapi tantangan yang tidak ditemukan di tempat lain: berbagi lahan dengan Komodo (Ora).
Dalam catatan etnografi (seperti laporan W. Douglas Burden, 1927), masyarakat Bima dikenal sebagai pelacak jejak paling handal di Komodo. Muncul sebuah kearifan lokal yang unik; meski mereka berburu rusa (makanan utama Komodo), mereka pantang menyakiti sang naga purba. Ada sebuah perjanjian tak tertulis bahwa manusia dan Komodo adalah “saudara” yang berbagi wilayah buru.

🔗 Baca juga: Putri Victoria Kagumi Karya Perajin Perempuan NTB di Bale Kita

Migrasi dan Perburuan di Tanah Manggarai (NTT)

Naluri berburu ini tidak berhenti di Pulau Komodo. Didorong oleh melimpahnya populasi rusa di daratan Flores, para pemburu Sape merambah lebih jauh ke timur, menuju wilayah Manggarai (Labuan Bajo hingga Reo).

Pada masa ini, perburuan berubah menjadi kegiatan ekonomi berskala besar. Mereka menetap di pesisir-pesisir Flores Barat selama berbulan-bulan, terutama saat musim kemarau—waktu terbaik untuk menjemur daging rusa menjadi dendeng. Aktivitas ini memicu terbentuknya kantong-kantong pemukiman orang Bima di NTT.

Labuan Bajo, yang kini menjadi kota pariwisata dunia, pada mulanya adalah salah satu titik singgah dan barter hasil buruan serta hasil laut bagi para pengelana dari Sape.

Transformasi Budaya: Dari Tombak ke Pelana

Dari masa ke masa, kebiasaan berburu ini mengalami evolusi. Ketika regulasi pemerintah mulai membatasi perburuan satwa liar demi pelestarian alam, “gen” berburu masyarakat Sape tidak lantas padam. Energi tersebut bertransformasi menjadi Pacoa Jara (Pacuan Kuda Tradisional).

Keahlian mengendalikan kuda di medan berat saat mengejar rusa kini diwariskan kepada joki-joki cilik. Ketangkasan, keberanian bertaruh nyawa, dan ikatan batin dengan kuda adalah sisa-sisa kejayaan masa lalu yang tetap terjaga.

Warisan yang Tetap Hidup

🔗 Baca juga: Putri Mahkota Victoria Tiba di Lombok, Disambut Tenun Sasak dan Minuman Rempah

Kisah masyarakat Sangiang Api dan Sape adalah kisah tentang mobilitas manusia Nusantara. Mereka membuktikan bahwa batas laut bukanlah penghalang, melainkan jembatan. Dari puncak Sangiang yang berasap hingga savana Komodo yang gersang, jejak kaki kuda dan ujung tombak mereka telah merajut hubungan sejarah yang erat antara Bima dan NTT.

Hingga hari ini, jika Anda berdiri di pelabuhan Sape dan menatap ke arah timur, Anda tidak hanya melihat laut, tetapi melihat jalur legenda para pemburu yang telah menaklukkan ganasnya arus demi harga diri dan kelangsungan hidup.

Rujukan Sejarah Utama:
* Bo’ Sangaji Kayu (Manuskrip Internal Kesultanan Bima).

* Dragon Lizards of Komodo oleh W. Douglas Burden (1927).

* Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah oleh Henri Chambert-Loir.

* Catatan perjalanan Heinrich Zollinger (1850) mengenai masyarakat Bima.

Berita Terkait

Putri Victoria Kagumi Karya Perajin Perempuan NTB di Bale Kita
Putri Mahkota Victoria Tiba di Lombok, Disambut Tenun Sasak dan Minuman Rempah
Demi Bebas Banjir, PMII Bima Dukung Penuh Percepatan Pembangunan Kolam Retensi Amahami
BBWS Nusa Tenggara I Mataram Salurkan 10.000 Liter Air Bersih Tangani Bencana Kekeringan di Kota Bima
Musda HKTI: Gubernur Miq Iqbal Tawarkan Model Pertanian ala FELDA Malaysia
Antisipasi Dampak Kekeringan, BBWS Nusa Tenggara I Salurkan 5.000 Liter Air Bersih di Lombok Barat
Anak mantan Bupati Bima Dipolisikan Terkait kasus penipuan Rp3,8 Miliar
Porprov NTB dinilai Gagal; KIN Pesimis NTB Jadi Tuan Rumah PON 2028

Berita Terkait

Saturday, 5 September 2026 - 17:51 WITA

Putri Victoria Kagumi Karya Perajin Perempuan NTB di Bale Kita

Saturday, 5 September 2026 - 16:21 WITA

Putri Mahkota Victoria Tiba di Lombok, Disambut Tenun Sasak dan Minuman Rempah

Saturday, 5 September 2026 - 11:11 WITA

Demi Bebas Banjir, PMII Bima Dukung Penuh Percepatan Pembangunan Kolam Retensi Amahami

Monday, 3 August 2026 - 18:06 WITA

BBWS Nusa Tenggara I Mataram Salurkan 10.000 Liter Air Bersih Tangani Bencana Kekeringan di Kota Bima

Sunday, 2 August 2026 - 20:44 WITA

Musda HKTI: Gubernur Miq Iqbal Tawarkan Model Pertanian ala FELDA Malaysia

Berita Terbaru

Daerah

Gubernur Iqbal: Bawa Syiar Al-Qur’an, Jaga Marwah NTB

Thursday, 10 Sep 2026 - 12:24 WITA