Melawan Imperialisme Dunia Pertambangan

Saturday, 31 January 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

718 kali dibaca

⚠️ PERINGATAN ⚠️
Berita ini disajikan untuk tujuan informasi. Pembaca diharapkan membaca dan menyikapi isi berita secara bijak dan kritis.

Oleh : Delian Lubis

Imperialisme dunia pertambangan hadir dalam wajah yang rapi namun menindas. Ia wauradatang membawa investasi, teknologi, dan janji kesejahteraan, tetapi sering kali meninggalkan luka mendalam bagi tanah, lingkungan, dan manusia yang hidup di sekitarnya.

Kekayaan alam yang seharusnya menjadi sumber kemakmuran rakyat justru dikuasai segelintir korporasi besar, sementara masyarakat lokal hanya menjadi penonton di atas tanahnya sendiri.
Atas nama pembangunan, hutan digunduli, sungai tercemar, dan ruang hidup dirampas. Negara kerap berdiri sebagai fasilitator modal, bukan pelindung rakyat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Regulasi dibuat longgar, pengawasan dilemahkan, dan suara masyarakat dibungkam oleh kekuatan uang dan kekuasaan.

🔗 Baca juga: Putri Victoria Kagumi Karya Perajin Perempuan NTB di Bale Kita

Inilah wajah baru imperialisme, bukan lagi dengan senjata, tetapi dengan kontrak, izin, dan konsesi tambang.
Perlawanan terhadap imperialisme pertambangan bukan penolakan terhadap pembangunan, melainkan tuntutan atas keadilan.

Rakyat berhak menentukan masa depan sumber daya alamnya sendiri.

Tambang harus dikelola dengan prinsip kedaulatan, keberlanjutan, dan keberpihakan pada masyarakat, bukan semata keuntungan korporasi.

Kesadaran kolektif menjadi kunci. Ketika masyarakat bersatu, akademisi bersuara, aktivis bergerak, dan media berpihak pada kebenaran, kekuatan modal tidak lagi mutlak.

Hukum harus ditegakkan, lingkungan dilindungi, dan hak-hak rakyat dipulihkan.

🔗 Baca juga: Putri Mahkota Victoria Tiba di Lombok, Disambut Tenun Sasak dan Minuman Rempah

Melawan imperialisme dunia pertambangan adalah perjuangan panjang. Namun sejarah selalu mencatat, kekuasaan sebesar apa pun akan runtuh ketika berhadapan dengan rakyat yang sadar, berani, dan bersatu.

Sumber daya alam bukan warisan untuk dijual, melainkan amanah untuk dijaga demi generasi yang akan datang.

Berita Terkait

Putri Victoria Kagumi Karya Perajin Perempuan NTB di Bale Kita
Putri Mahkota Victoria Tiba di Lombok, Disambut Tenun Sasak dan Minuman Rempah
Demi Bebas Banjir, PMII Bima Dukung Penuh Percepatan Pembangunan Kolam Retensi Amahami
BBWS Nusa Tenggara I Mataram Salurkan 10.000 Liter Air Bersih Tangani Bencana Kekeringan di Kota Bima
Musda HKTI: Gubernur Miq Iqbal Tawarkan Model Pertanian ala FELDA Malaysia
Antisipasi Dampak Kekeringan, BBWS Nusa Tenggara I Salurkan 5.000 Liter Air Bersih di Lombok Barat
Gubernur NTB Luncurkan Reformasi Pendidikan, Perkuat Mutu Sekolah hingga Ketahanan Pangan
Nama Tercantum di Manifes Umrah AKBP Didik, Kasi Humas Polres Bima Kota Buka Suara: “Saya Diajak, Tapi Batal Berangkat

Berita Terkait

Saturday, 5 September 2026 - 17:51 WITA

Putri Victoria Kagumi Karya Perajin Perempuan NTB di Bale Kita

Saturday, 5 September 2026 - 16:21 WITA

Putri Mahkota Victoria Tiba di Lombok, Disambut Tenun Sasak dan Minuman Rempah

Saturday, 5 September 2026 - 11:11 WITA

Demi Bebas Banjir, PMII Bima Dukung Penuh Percepatan Pembangunan Kolam Retensi Amahami

Monday, 3 August 2026 - 18:06 WITA

BBWS Nusa Tenggara I Mataram Salurkan 10.000 Liter Air Bersih Tangani Bencana Kekeringan di Kota Bima

Sunday, 2 August 2026 - 20:44 WITA

Musda HKTI: Gubernur Miq Iqbal Tawarkan Model Pertanian ala FELDA Malaysia

Berita Terbaru

Daerah

Gubernur Iqbal: Bawa Syiar Al-Qur’an, Jaga Marwah NTB

Thursday, 10 Sep 2026 - 12:24 WITA