470 kali dibaca
Berita ini disajikan untuk tujuan informasi. Pembaca diharapkan membaca dan menyikapi isi berita secara bijak dan kritis.
Kota Bima, OMPUNET.id – Harapan warga Kota Bima untuk bebas dari ancaman banjir musiman semakin nyata setelah Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I dan Bank Dunia (World Bank) menegaskan komitmen kuat dalam National Urban Flood Resilience Project (NUFReP). Proyek ini bukan sekadar perbaikan, melainkan upaya komprehensif untuk menciptakan ketahanan kota terhadap bencana banjir.
Diskusi mendalam antara para pemangku kepentingan menggarisbawahi urgensi percepatan proyek ini, yang didukung pendanaan dari Bank Dunia senilai total sekitar Rp459 Miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
🔗 Baca juga: Putri Victoria Kagumi Karya Perajin Perempuan NTB di Bale Kita
Fokus Utama: Normalisasi Empat
Sungai Kritis
Inti dari proyek NUFReP adalah penanganan infrastruktur, terutama normalisasi empat sungai utama yang selama ini menjadi sumber luapan air di Kota Bima: Sungai Ntobo, Nae, Rite, dan Tambe. Normalisasi ini krusial untuk meningkatkan kapasitas sungai agar mampu menampung debit air saat terjadi curah hujan ekstrem.
Meskipun progres pembangunan drainase primer telah mencapai angka 50%, tantangan terbesar yang dihadapi adalah percepatan pembebasan lahan.
Komitmen Pemkot Jadi Kunci Percepatan
Menanggapi tantangan lahan ini, Pemerintah Kota Bima menegaskan komitmennya untuk segera menyelesaikan proses pembebasan lahan.
🔗 Baca juga: Putri Mahkota Victoria Tiba di Lombok, Disambut Tenun Sasak dan Minuman Rempah
Kepastian anggaran daerah untuk akuisisi lahan dianggap vital agar pengerjaan normalisasi sungai dan pembangunan kolam retensi dapat berjalan sesuai jadwal.
Lebih lanjut, pembahasan juga menyoroti pentingnya pengelolaan sampah terpadu.
Bank Dunia menekankan bahwa penanganan banjir akan sia-sia jika masalah sampah yang menyumbat drainase tidak ditangani secara serius. Sinergi ini mendorong Pemkot Bima untuk memastikan bahwa perbaikan





























