629 kali dibaca
Berita ini disajikan untuk tujuan informasi. Pembaca diharapkan membaca dan menyikapi isi berita secara bijak dan kritis.
Lombok Timur – Di tengah derasnya arus informasi politik yang membanjiri media sosial, Forum Mahasiswa Lombok Timur (FORMASTIM) melalui Departemen Sosial Politik menggelar Seminar Sekolah Politik 2026 sebagai ruang edukasi bagi generasi muda untuk memahami politik secara lebih objektif, kritis, dan konstruktif.
Kegiatan yang berlangsung di Lombok Timur ini menjadi salah satu upaya nyata FORMASTIM dalam meningkatkan literasi politik pemuda sekaligus membangun kesadaran bahwa politik bukanlah sesuatu yang harus dijauhi atau selalu dipandang negatif.
Sebaliknya, politik merupakan instrumen penting dalam menentukan arah pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Seminar tersebut juga sejalan dengan visi pembangunan Kabupaten Lombok Timur yang menempatkan pemuda sebagai salah satu motor penggerak kemajuan daerah. Melalui penguatan kapasitas generasi muda, diharapkan lahir kader-kader pemimpin masa depan yang memiliki integritas, wawasan kebangsaan, serta kemampuan berkontribusi dalam proses demokrasi secara sehat dan bertanggung jawab.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengangkat tema penguatan kapasitas politik generasi muda, seminar menghadirkan dua perspektif yang selama ini kerap dianggap berada pada sisi yang berbeda, yakni perspektif pemerintah dan perspektif gerakan mahasiswa.
Pada sesi pertama, peserta mendapatkan pemahaman mengenai arah kebijakan pemerintah daerah melalui pemaparan dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri (Kesbangpoldagri) Kabupaten Lombok Timur. Materi yang disampaikan menitikberatkan pada pentingnya etika demokrasi, partisipasi politik yang sehat, serta kemampuan masyarakat dalam menyaring informasi di tengah maraknya penyebaran hoaks dan polarisasi digital.
Sementara itu, sesi kedua menghadirkan aktivis nasional sekaligus mantan Sekretaris Jenderal dan Wakil Ketua BEM Universitas Mataram periode 2024, Yudiatna Dwi Syahreza, S.Pt., yang membawakan materi bertajuk
🔗 Baca juga: Dari Hilirisasi hingga Gili Tramena, Gubernur NTB dan Komisi VII Perkuat Transformasi Ekonomi NTB
“Aktivisme Konstruktif: Mengubah Gejolak Gerakan Pemuda Menjadi Kontribusi Kebijakan Daerah yang Nyata.”
Dalam pemaparannya, Yudiatna menekankan bahwa gerakan pemuda tidak cukup hanya berhenti pada kritik dan aksi demonstrasi semata. Menurutnya, pemuda perlu memperkuat kapasitas riset, analisis data, dan pemahaman regulasi agar gagasan yang diperjuangkan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang benar-benar berdampak bagi masyarakat.
Ketua Umum FORMASTIM, Sofansyah Aldin Nunasiha, mengatakan bahwa kegiatan ini lahir dari keprihatinan terhadap meningkatnya sikap apatis generasi muda terhadap politik.
”Masih banyak anak muda yang menganggap politik sebagai sesuatu yang kotor dan tidak layak didekati. Padahal dalam sistem demokrasi, politik adalah alat untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Jika generasi muda menjauh dari politik, maka ruang pengambilan keputusan akan diisi oleh orang-orang yang mungkin tidak memiliki kepedulian terhadap kepentingan publik. Melalui Sekolah Politik ini, kami ingin mengubah cara pandang tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Departemen Sosial Politik FORMASTIM sekaligus penggagas kegiatan, Pengki Saputra, menilai bahwa fenomena politik yang ramai diperbincangkan di media sosial perlu diimbangi dengan pemahaman yang benar dan mendalam.
”Hari ini kita melihat anak muda sangat aktif membahas isu politik di TikTok, Instagram, maupun platform digital lainnya. Namun tidak sedikit yang hanya melihat politik dari sisi konflik dan sensasi. Melalui seminar ini, kami ingin menunjukkan bahwa politik sesungguhnya adalah ruang pengabdian. Politik yang dipahami dengan baik akan melahirkan partisipasi yang sehat dan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat,” jelas Pengki.
🔗 Baca juga: Wagub NTB Apresiasi Sensus Ekonomi Capai 94 Persen
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah menghilangkan stigma bahwa politik identik dengan praktik-praktik negatif. Karena itu, FORMASTIM berupaya menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan sudut pandang birokrasi dan aktivisme agar peserta dapat memperoleh pemahaman yang lebih utuh.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang jalannya seminar. Salah seorang peserta, Dian Prayoga, mahasiswa asal Kecamatan Sikur, mengaku memperoleh perspektif baru setelah mengikuti kegiatan tersebut.
”Sebelumnya saya menganggap politik itu identik dengan konflik dan kepentingan kelompok tertentu. Namun setelah mengikuti seminar ini, saya memahami bahwa keputusan politik sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Saya jadi sadar bahwa anak muda tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita harus ikut belajar, memahami, dan terlibat dalam proses demokrasi agar bisa ikut mengawal kebijakan yang berpihak kepada rakyat,” ungkapnya.
Seminar Sekolah Politik 2026 menjadi bukti komitmen FORMASTIM dalam menciptakan ruang pendidikan politik yang inklusif bagi generasi muda Lombok Timur. Lebih dari sekadar kegiatan seremonial, program ini diharapkan mampu melahirkan agen-agen perubahan yang memiliki kesadaran politik, kemampuan berpikir kritis, serta semangat pengabdian kepada masyarakat.
Dengan semakin banyaknya pemuda yang memahami politik secara sehat dan rasional, Lombok Timur diharapkan dapat memiliki generasi penerus yang siap berkontribusi dalam pembangunan daerah, menjaga kualitas demokrasi, serta membawa perubahan positif bagi masa depan Bumi Patuh Karya.





























