Realisasi Pendapatan Daerah Pertanggal 29 November 2025.

Sunday, 30 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

416 kali dibaca

⚠️ PERINGATAN ⚠️
Berita ini disajikan untuk tujuan informasi. Pembaca diharapkan membaca dan menyikapi isi berita secara bijak dan kritis.

Catatan Lepas : Ntara Institute
——————————–

Angka realisasi pendapatan daerah yang mendekati 80% sering kali dijadikan bukti keberhasilan pemerintah daerah. Namun, melihat lebih dekat justru menunjukkan bahwa capaian tersebut lebih banyak menutupi kelemahan daripada menunjukkan performa nyata.

Pertama, PAD yang digadang-gadang sebagai indikator kemandirian daerah hanya mencapai 81%. Padahal, jika ditelisik, pilar utama PAD, pajak daerah—bahkan tidak menembus 80%. Ini bukan sekadar masalah teknis pemungutan, tetapi menunjukkan bahwa pemerintah daerah belum mampu mengelola basis pajaknya sendiri secara efektif. Target tinggi, realisasi rendah: masalah klasik yang terus diulang.

Kedua, realisasi retribusi yang terlihat “aman” tidak bisa dibanggakan. Di banyak daerah, retribusi justru lebih boros biaya penarikannya dibanding hasilnya. Tanpa evaluasi efektivitas, realisasi retribusi hanyalah angka yang tidak mencerminkan manfaat fiskal.

Ketiga, pos yang paling mencolok adalah Lain-Lain PAD yang Sah yang mencapai 182%. Lonjakan ini bukan prestasi, tetapi tanda bahaya. Perencanaan yang buruk, pemetaan potensi yang lemah, dan ketidakteraturan pencatatan pendapatan menjadi sorotan utama. Jika targetnya terlalu rendah hingga realisasi melonjak tak wajar, ini berarti penyusunan anggaran tidak berbasis data dan cenderung asal-asalan.

Dengan kondisi seperti ini, narasi “kinerja pendapatan yang baik” menjadi tidak relevan. Pemerintah daerah seharusnya tidak puas dengan angka persentase yang tampak cantik, ketika akar masalah seperti ketergantungan fiskal, perencanaan yang tidak presisi, dan lemahnya optimalisasi PAD masih dibiarkan.

🔗 Baca juga: Wagub NTB Apresiasi Sensus Ekonomi Capai 94 Persen

Selama masalah mendasar ini tidak diperbaiki, keberhasilan yang ditampilkan hanyalah kosmetik anggaran, bukan kemajuan fiskal yang sesungguhnya.

_Behor_
Sekretaris Ntara Institute

Berita Terkait

Dari Hilirisasi hingga Gili Tramena, Gubernur NTB dan Komisi VII Perkuat Transformasi Ekonomi NTB
Wagub NTB Apresiasi Sensus Ekonomi Capai 94 Persen
Antisipasi Defisit, Pemprov NTB Susun APBD-P Lebih Realistis
Semester I 2026, Investasi NTB Tembus Rp33,73 Triliun, Semakin Berkualitas dan Inklusif
NTB Selangkah Lagi Terapkan Sistem Manajemen Talenta ASN
Pasca OTT Bupati Lombok Barat, Kursi Wakil Bupati Jadi Incaran Partai Pengusung, KASTA NTB DPD LOBAR Terlalu Dini, Luka Rakyat Belum Terobati
Musda HKTI: Gubernur Miq Iqbal Tawarkan Model Pertanian ala FELDA Malaysia
Kerap Dikeluhkan, Iqbal Revitalisasi Pasar Kuta Mandalika Jadi Lebih Nyaman

Berita Terkait

Tuesday, 11 August 2026 - 20:25 WITA

Dari Hilirisasi hingga Gili Tramena, Gubernur NTB dan Komisi VII Perkuat Transformasi Ekonomi NTB

Tuesday, 11 August 2026 - 20:22 WITA

Wagub NTB Apresiasi Sensus Ekonomi Capai 94 Persen

Monday, 10 August 2026 - 15:29 WITA

Antisipasi Defisit, Pemprov NTB Susun APBD-P Lebih Realistis

Friday, 7 August 2026 - 15:58 WITA

Semester I 2026, Investasi NTB Tembus Rp33,73 Triliun, Semakin Berkualitas dan Inklusif

Friday, 7 August 2026 - 15:55 WITA

NTB Selangkah Lagi Terapkan Sistem Manajemen Talenta ASN

Berita Terbaru

Daerah

Gubernur Iqbal: Bawa Syiar Al-Qur’an, Jaga Marwah NTB

Thursday, 10 Sep 2026 - 12:24 WITA